Innalillahi wa inna ilaihi raji'un

Dunia pendidikan pesantren Indonesia kehilangan salah satu tokoh monumentalnya. Pada Sabtu, 3 Januari 2026 pukul 12.14 WIB, Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi, M.A., Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), telah kembali ke rahmatullah di RSUD Dr. Moewardi, Solo. Jenazah beliau telah dimakamkan di pemakaman keluarga Gontor pada pagi hari Ahad, 4 Januari 2026.

Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam tidak hanya bagi keluarga besar Gontor, tetapi juga bagi seluruh umat Islam Indonesia yang merasakan dampak kepemimpinan dan visi beliau dalam meneruskan perjuangan ayahanda tercinta, KH Imam Zarkasyi, pendiri Pondok Modern Gontor.

Putra Sang Perintis Pesantren Modern

Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi adalah putra ketiga dari KH Imam Zarkasyi, salah satu dari Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor. Trimurti yang dimaksud adalah tiga tokoh legendaris: KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi, yang mendirikan Gontor pada 20 September 1926.

Beliau lahir di Gontor pada 11 Februari 1958 dan mengenyam pendidikan di pesantren yang diasuh ayahanda beliau sendiri. Setelah menyelesaikan pendidikan di Gontor, beliau melanjutkan studi hingga meraih gelar doktor dengan spesialisasi Ilmu Kalam, Perbandingan Agama, dan Teologi Islam. Tidak hanya sebagai kiai, beliau juga akademisi sejati yang pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor periode 2014-2020, sebelum akhirnya menjadi Pimpinan PMDG pada tahun 2020 hingga wafatnya.

Meneruskan Visi Ayahanda: Pesantren yang Tidak Lekang oleh Zaman

KH Imam Zarkasyi, ayahanda almarhum, memiliki visi revolusioner di masanya: mencetak generasi ulama yang intelek, bukan sekadar intelek yang tahu agama. Visi ini diturunkan dengan sempurna oleh Prof. KH Amal Fathullah Zarkasyi. Beliau melanjutkan sistem pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam tradisional dengan kebutuhan ilmu pengetahuan modern, tanpa kehilangan identitas pesantren sebagai benteng akhlak dan adab.

Di bawah kepemimpinan beliau, Gontor tetap konsisten dengan filosofi Panca Jiwa yang menjadi ruh pendidikan pesantren modern: Keikhlasan, Kesederhanaan, Kemandirian (Berdikari), Ukhuwah Islamiyah, dan Kebebasan. Lima nilai inilah yang menjadikan santri Gontor tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga tangguh secara mental dan spiritual.

Dwi Bahasa: Warisan yang Tetap Dijaga

Salah satu keunikan Gontor yang terus beliau perkuat adalah penguasaan dwi bahasa: Arab dan Inggris. Bahasa Arab dijadikan kunci untuk menguasai ilmu-ilmu keislaman, sementara bahasa Inggris menjadi sarana untuk memahami sains dan ilmu umum. Sistem ini bukan sekadar mata pelajaran, tetapi menjadi budaya hidup sehari-hari santri di lingkungan Gontor.

Trimurti pendiri Gontor, termasuk ayahanda beliau, bertekad bahwa alumni Gontor harus mampu berkiprah di berbagai bidang dengan landasan keislaman yang kuat. Prof. KH Amal Fathullah melanjutkan tekad tersebut dengan berbagai program peningkatan kualitas bahasa, seperti Arabic Super Camp dan kompetisi drama berbahasa Arab-Inggris antar asrama.

Kemandirian Lembaga: Prinsip yang Tak Tergoyahkan

Salah satu warisan terbesar yang beliau jaga adalah prinsip kemandirian lembaga. Gontor di bawah kepemimpinan beliau tetap konsisten tidak bergantung pada bantuan pemerintah atau pihak manapun, sehingga mampu menjaga independensi ideologi dan kurikulum. Prinsip berdikari ini tidak hanya diterapkan pada lembaga, tetapi juga ditanamkan kepada setiap santri agar sanggup menolong diri sendiri dan menjadi manusia yang mandiri.

Jiwa kemandirian inilah yang menjadikan alumni Gontor tersebar di berbagai negara, mampu beradaptasi dan berkontribusi di mana pun mereka berada, tanpa kehilangan jati diri sebagai muslim yang taat dan berakhlak mulia.

Duka yang Menginspirasi

Wafatnya Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi adalah pengingat bagi kita semua bahwa setiap jiwa akan merasakan kematian. Namun, yang abadi adalah ilmu dan amal jariyah yang ditinggalkan. Ribuan santri yang tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara adalah bukti nyata dari keikhlasan beliau dalam berdakwah melalui pendidikan.

Bagi Pondok Pesantren Islam Al Iman Muntilan, kepergian beliau menjadi momentum refleksi mendalam. Kami terinspirasi untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, menjaga integritas lembaga, dan mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kuat secara spiritual—persis seperti yang dilakukan Gontor.

Pesan untuk Generasi Santri

Kepada para santri di seluruh Indonesia, khususnya di Al Iman Muntilan, mari kita ambil hikmah dari perjalanan hidup Prof. KH Amal Fathullah Zarkasyi:

  • Ikhlas dalam menuntut ilmu: Niatkan semua proses belajar semata-mata karena Allah
  • Hidup sederhana, berpikir luas: Kesederhanaan bukan berarti miskin wawasan, justru membuka pintu ilmu yang tak terbatas
  • Mandiri dan tidak bergantung: Latih diri untuk sanggup mengurus kepentingan sendiri sejak di pesantren
  • Jaga ukhuwah islamiyah: Persaudaraan sesama santri adalah modal untuk membangun peradaban
  • Berani berinovasi dalam bingkai syariat: Modernitas bukan ancaman, selama tetap berlandaskan nilai-nilai Islam

Doa dan Takziah

Kami dari keluarga besar Pondok Pesantren Islam Al Iman Muntilan mengucapkan takziah yang sedalam-dalamnya kepada keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor, khususnya kepada keluarga yang ditinggalkan. Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik di sisi-Nya kepada almarhum Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi, M.A., mengampuni segala dosa-dosanya, dan menerima seluruh amal ibadahnya.

Allahummaghfir lahu warhamhu wa'afihi wa'fu 'anhu wa akrim nuzulahu

Semoga perjuangan beliau dalam melanjutkan estafet pendidikan pesantren modern yang dirintis ayahanda dan Trimurti Gontor menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya hingga hari kiamat. Dan semoga kita semua, para pengelola pesantren dan pendidik, mampu meneruskan semangat pembaharuan pendidikan Islam dengan penuh keikhlasan dan profesionalitas.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh