Ada kalanya seorang hamba merasa lelah dan hampir berputus asa ketika doa yang ia panjatkan tidak kunjung dikabulkan. Padahal, dalam pandangan para ulama, keterlambatan jawaban doa bukan berarti Allah menolak hamba-Nya, tetapi bisa menjadi bagian dari cara Allah mendidik dan memilihkan yang terbaik bagi hidupnya.

Para ahli hikmah menjelaskan bahwa seorang mukmin tidak seharusnya berhenti berharap hanya karena permintaannya belum terwujud. Allah sudah menjamin akan mengabulkan doa, tetapi pengabulan itu terjadi dengan tiga ketentuan: sesuai dengan pilihan-Nya, dengan cara yang Dia kehendaki, dan pada waktu yang Dia tetapkan, bukan berdasarkan keinginan hamba.

Janji Allah kepada Orang yang Berdoa

Al-Qur’an menegaskan perintah untuk berdoa sekaligus janji pengabulan, di mana Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa dan menjanjikan bahwa Dia akan mengabulkannya. Doa juga diposisikan sebagai bentuk ibadah yang mulia, sehingga orang yang enggan berdoa dan bersikap sombong terhadap ibadah diancam dengan kehinaan di akhirat.

Di ayat lain, Allah mengingatkan bahwa boleh jadi sesuatu yang kita benci justru baik bagi kita, dan sesuatu yang kita sukai ternyata buruk bagi kita. Manusia hanya melihat sebatas lahiriah dan jangka pendek, sementara Allah mengetahui seluruh dampak dan hikmah di balik setiap peristiwa yang terjadi.

Penundaan Bukan Penolakan

Dari penjelasan para ulama, kita diajarkan untuk memandang penundaan atau perubahan jawaban doa sebagai bentuk kasih sayang Allah. Mungkin kita meminta sesuatu yang menurut kita baik, namun Allah menggantinya dengan yang lebih bermanfaat, atau menundanya hingga waktu yang lebih tepat. Secara lahir tampak seperti penolakan, padahal pada hakikatnya itu adalah pemberian dalam bentuk lain.

Sikap yang paling tepat bagi seorang mukmin adalah terus berdoa, memperbanyak istighfar, memperbaiki niat, dan bersabar dalam ketaatan. Sabar bukan berarti pasif, tetapi menerima ketentuan Allah sambil terus berusaha. Penundaan jawaban doa sering kali merupakan cara Allah meninggikan derajat hamba-Nya dan memberikan sesuatu yang lebih sesuai dengan kebutuhan akhirat maupun dunianya.

Menjaga Harap dan Sabar dalam Doa

Doa yang belum dikabulkan bukan alasan untuk berhenti mendekat kepada Allah. Justru di saat-saat penantian itulah seorang hamba diuji: apakah ia tetap yakin pada janji Tuhannya atau memilih berputus asa. Orang yang beriman akan menjadikan setiap keterlambatan sebagai peluang untuk memperbanyak doa, memperkuat tawakal, dan memperbaiki hubungan dengan Allah.

Pada akhirnya, yang paling penting bukan hanya apa yang kita minta, tetapi bagaimana doa itu memperhalus hati, menguatkan iman, dan menumbuhkan sikap sabar. Dengan keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Sayang, seorang mukmin akan terus melangkah tanpa putus asa, karena ia tahu bahwa setiap doa pasti mendapat perhatian, meski bentuk dan waktunya mungkin berbeda dari yang ia bayangkan.